Prasangka

Karya . Dikliping tanggal 24 September 2018 dalam kategori Cerita Anak, Lampung Post

HARI Sabtu siang, matahari bersinar cerah di atas Kota Metro, Lampung. Bel pulang berdentang. Anak-anak kelas lima SD berhamburan keluar kelas, kecuali Sari dan Lulu.

Sari jengkel sekali. Sudah dua kali ini buku ceritanya rusak setelah dipinjam Lulu, teman sebangku yang juga tetangganya. “Maaf, Sari. Bukumu rusak lagi.” Dengan wajah menyesal, Lulu menyodorkan buku cerita yang sampulnya sobek dan beberapa halamannya terlepas. “Kemarin, Cici ….”

“Nggak perlu banyak alasan! Kamu emang ceroboh, Lu!” Sari melengos dan bergegas keluar. Lulu menghela napas. Dengan langkah gontai, ia melangkah pulang.

***

Sari adalah anak yang rapi dan disiplin. Ia tak mau barang-barangnya berantakan. Sepulang sekolah, Sari menyimpan sepatu di rak dan menaruh tas di meja belajar. Setelah itu, baju seragam yang sudah diberi hanger digantungnya di samping lemari pakaian.

Harum masakan mama membuat perut Sari keroncongan. Ia pun bergegas ke belakang untuk cuci tangan. Matanya terbelalak saat melihat meja makan.

“Wow, masak besar ya, Ma?” Sari membuka tudung saji. “Banyak sekali lauknya.”

Mama tertawa melihat ekspresi Sari. “Ini namanya nasi krawu, makanan khas dari kota kelahiran mama. Lauknya berupa serundeng dwiwarna merah dan kuning, suwiran daging sapi, serta sambal terasi. Satu lagi pelengkap yang sayang jika dilewatkan, yakni blondo, ampas minyak kelapa yang rasanya gurih,” jelas mama panjang lebar.

Sari ber-ooh panjang.

Mama Sari adalah penduduk asli Kota Gresik. Setelah menikah dengan papa Sari yang berasal dari Semarang, hidup mereka berpindah-pindah, sesuai dengan tugas penempatan papa Sari yang menjadi anggota TNI AL. Sudah dua tahun ini mereka menetap di Metro, Lampung.

“Kardus-kardus itu buat apa, Ma?” Sari menunjuk ke tumpukan kardus makanan di sebelah meja makan.

“Mama ingin berbagi dengan tetangga, sebagai rasa syukur atas pernikahan mama dan papa.” Mama tersenyum sam- bil menata nasi dan lauk ke dalam kardus. “Nanti Sari yang antar nasi krawu ini, ya.”

Sari mengangguk. “Selamat ulang tahun pernikahan ya, Ma. Semoga Mama dan Papa selalu berbahagia hingga akhir hayat. Aamiin,” kata Sari sambil memeluk mama.

“Aamiin. “Mama balas memeluk dan mencium Sari.

***

Selepas salat asar, Sari berkeliling membagi makanan khas Gresik tersebut ke semua tetangga.

“Sudah selesai, Ma?”

“Tinggal Tante Dini yang belum.”

Sari langsung cemberut. “Mama saja yang ke sana.”

“Kenapa? Bertengkar dengan Lulu, ya?”

Sari mengangguk dan menceritakan semuanya. “Seharusnya dia bisa menjaga bukuku, Ma. Nggak teledor kayak gitu.”

“Sari, jangan mudah menghakimi jika belum tahu alasannya. Prasangka bisa menyebabkan retaknya kerukunan dan persahabatan yang sudah terjalin, loh.” Mama mengelus rambut Sari.“Ayo buruan, antar nasinya sekarang.”

Dengan sedikit dongkol, Sari beranjak pergi. Ia bersyukur karena Tante Dini yang menemuinya.

Cici yang membuntuti Tante Dini, menarik-narik tangan Sari dan meraih kardus berisi nasi krawu.

“Cici, nggak boleh gitu,” tegur Tante Dini.

Adik Lulu yang baru berumur dua tahun itu tak peduli. Ia membuka kardus dan langsung memakan isinya. Sari tertawa geli melihatnya.

Tante Dini geleng-geleng. “Cici memang anak yang sangat aktif. Selain doyan makan, dia senang buku bergambar. Maaf ya, kemarin buku Sari jadi korban, padahal Lulu sudah menyimpannya di meja belajar. Saat Lulu sekolah, Tante sibuk di dapur. Tahu-tahu, Cici menyodorkan buku cerita dalam kondisi halaman terlepas dan sobek sampulnya sambil terkekeh.”

Sari terperanjat. Ia tak pernah menduga jika seperti itu kejadiannya. Ternyata buku ceritanya rusak bukan karena kecerobohan Lulu, tetapi karena keaktifan Cici!

Sari pun bergegas pamit. Saat pulang, sebuah rencana berkelebat di benaknya.

***

Keesokan hari setelah sarapan, Sari kembali ke rumah Tante Dini. Kali ini Lulu yang membukakan pintu.

“Lu, maafkan aku, ya. Sudah menuduh mu ceroboh.” Sari mengulurkan tangan untuk bersalaman. “Kemarin Tante Dini cerita jika Cici yang merusakkan bukuku, bukan kamu.”

Lulu menyambut tangan Sari sambil tersenyum lebar. “Iya, sama- sama. Maafkan aku juga ya, Sari, nggak bisa menjaga bukumu. Nanti aku ganti bukumu jika tabunganku sudah cukup, ya.”

“Nggak perlu, Lu. Koleksi buku ceritaku masih banyak, kok. Oh iya, ini buat Cici.” Sari mengangsurkan tas plastik ke Lulu.

“Makasih, ya.” Lulu tersenyum lebar tatkala membuka tas yang berisi setumpuk buku cerita.

Tiba-tiba, Cici keluar dari kamar dan menubruk Lulu hingga jatuh terguling. Cici bersorak melihat buku-buku yang berserakan. Ia pun asyik membuka-buka buku bergambar pemberian Sari tersebut.

Sari dan Lulu tertawa melihat tingkah Cici.

Mulai saat ini, Sari berjanji dalam hati. Ia akan menjauhkan diri dari pra sangka agar kerukunan dan persahabatan dengan teman bisa terjaga.

[1] Disalin dari karya Elisa DS
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” edisi Minggu, 23 September 2018