Pro dan Kontra

Karya . Dikliping tanggal 30 Oktober 2018 dalam kategori Cerita Anak, Kompas

Raka dan Dinar adalah dua orang kakak beradik yang tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan. Raka duduk di kelas V, Dinar di kelas III. Mereka selalu berangkat dan pulang sekolah bersama.

Tapi hari ini, Raka pulang sambil bersungut-sungut. Begitu pula dengan Dinar. Tampaknya mereka habis bertengkar. Mama yang melihat sikap mereka lalu mencari tahu.

“Raka, Dinar, kalian berdua ada masalah apa?”

Raka menjawab lebih dahulu, “Ini Ma, tadi Dinar jajan sembarangan. Padahal Mama pernah berpesan, agar kami tidak boleh jajan sembarangan.”

“Dinar tidak jajan sembarangan, Kak. Dinar cuma jajan jalangkote Mak Ripah,” bantah Dinar. Jalangkote adalah makanan ringan khas Makassar.

“Gerobak Mak Ripah itu di pinggir jalan. Kamu tahu kan, kalau makanan di pinggir jalan sering terkena debu?” ujar Raka.

“Tapi jalangkote Mak Ripah bersih. Wadahnya selalu tertutup,” tukas Dinar.

“Tuh, Ma. Dinar tidak mau dengar nasihat aku?”

“Kakak memberi nasihat sambil marah-marah. Tadi juga bilang Dinar jorok di depan teman-teman. Dinar kan jadi malu,” tanggap Dinar.

“Sudah, ayo kita bicarakan dahulu baik-baik,” ungkap Mama. “Jadi, masalahnya tentang jajan di pinggir jalan. Dinar pro, sedangkan Raka kontra.”

Kedua anak itu terlihat bingung dengan perkataan Mama soal pro dan kontra.

Mama kemudian menjelaskan, “Pro artinya setuju, sedangkan kontra artinya tidak setuju. Dinar setuju kalau jajan di pinggir jalan boleh, sedangkan Raka tidak setuju.”

Raka dan Dina serius mendengarkan Mama.

“Di dunia ini banyak terjadi pro dan kontra karena semua orang punya hak untuk menyatakan pendapat. Namun, penyampaian pendapat itu perlu kita perhatikan. Jangan sampai kita saling menyinggung dengan orang yang berbeda pendapat dengan kita,” jelas Mama.

“Raka sudah benar melarang Dinar jajan di pinggir jalan. Dinar juga tidak salah, karena walaupun di pinggir jalan, jalangkote Mak Ripah tertutup dan bersih.”

Mama lalu berkata lembut ke Dinar. “Dinar, meskipun jajanan di pinggir jalan terlihat bersih, tetapi Kakakmu benar, karena makanan di rumah kita jauh lebih terjamin kebersihannya.”

Dinar mengangguk.

Mama beralih ke Raka. “Niat Raka sebenarnya baik untuk mengingatkan Dinar. Tapi lain kali gunakan kata-kata yang baik dan lembut.”

Raka sadar jika tadi sudah marah-marah pada Dinar. “Maafkan Kakak, ya!” ucapnya tulus.

Dinar menerima permintaan maaf kakaknya.

“Jangan hanya karena yang satu pro dan yang lain kontra, kalian jadi tidak menghormati satu sama lain. Kita harus memelihara sikap cinta damai.  Sekarang kalian mengerti, kan?” ujar Mama.

Raka dan Dinar mengangguk. Mereka mendapat pelajaran berharga dari Mama agar saling menghargai dan menjaga perilaku cinta damai di antara mereka. *


[1] Disalin dari karya  Herdita Dwi Rahmadhiany
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” rubrik Nusantara Bertutur edisi Minggu, 28 Oktober 2018