Resep Baru Nini Gupita

Karya . Dikliping tanggal 9 Oktober 2018 dalam kategori Cerita Anak, Lampung Post

MUSIM panen pisang telah tiba. Semua rakyat di Kerajaan Panjalu bersorak senang. Pisang hasil panen kali ini lebih berlimpah dari tahun sebelumnya.

“Aku akan membuat kolak pisang,” seru salah satu warga.

Rakyat di Panjalu memang sangat menyukai olahan pisang. Ada yang akan membuat pisang yang dilumuri adonan tepung tebal. Ada juga yang memakannya secara langsung.

Nini Gupita, juru masak kerajaan, tersenyum mendengar obrolan mereka. Dia juga berencana membuat berbagai olahan pisang untuk keluarga kerajaan. Kebetulan sekali, mereka Panjalu juga menyukai pisang.

Hari pertama, Nini Gupita membuat kolak pisang sebagai makanan penutup. Dia memilih satu sisir pisang yang sudah matang, dan memeras santan, dan mengolahnya hingga menjadi kolak. Tak lupa, Nini Gupita membubuhkan daun pandang wangi agar kolak buatannya beraroma sedap.

“Masakan buatanmu selalu enak, Nini Gupita,” puji salah satu putri kerajaan.

Nini Gupita membungkuk . Dia senang sekali mendengar pujian tersebut. Apalagi ketika melihat para penghuni istana sangat lahap menyantap kolak pisang buatannya.

Hari selanjutnya, Nini Gupita membuat adonan tepung yang sangat encer.

“Apa yang akan kau masak hari ini, Nini Gupita?” tanya salah satu putri kerajaan yang suka mengintipnya di dapur.

“Pisang sembunyi,” kata Nini Gupita asal-asalan.

Dia mencetak adonan tepung menjadi lembaran tipis dan menaruh potongan pisang di dalamnya. Lalu, Nini Gupita menggulung lembaran tipis, hingga pisang tak lagi terlihat. Lalu, dia memberi irisan tipis gula aren di atasnya, dan menggoreng gulungan pisang tersebut.

“Seperti biasa, ini enak,” puji Raja. Hari selanjutnya pun sama. Nini Gupita kembali mendapat pujian karena olahan pisangnya yang sangat enak dan bervariasi. Namum lama-lama, seluruh keluarga kerajaan mulai bosan. Mereka mulai mengeluh tentang makanan penutup yang selalu saja berbahan pisang.

“Oh. Pisang lagi. Aku bosan,” keluh putri kerajaan ketika Nini Gupita menyuguhkan kolak pisang lagi.

“Aku juga,” sahut yang lain.

“Bisakah kau memasak makanan lain, Nini Gupita?”

Nini Gupita hanya mengangguk, lalu mengangkut olahan pisang yang dia buat ke dapur. Dia membagikan kolak pisangnya untuk para pekerja di istana. Namun, mereka juga sama bosannya. Mereka makan dengan ogah-ogahan dan tidak berselera.

Dan Nini Gupita hanya menghela napas sedih ketika melihat mereka membuang sisa kolak pisang buatannya.

Hingga beberapa hari kemudian, persediaan pisang di dapur masih banyak. Beberapa bahkan sudah membusuk dan terpaksa dibuang. Padahal, Raja pernah berpesan padanya untuk tidak menyia-nyiakan bahan makanan. Apalagi hingga membuangnya.

“Aku harus mencari cara,” kata Nini Gupita sambil mondar-mandir di dapur.

Tiba-tiba, Nini Gupita salah satu resep mendiang neneknya. Nini Gupita nyaris bersorak saking senangnya. Dia mengambil satu sisir pisang lalu mulai mengukusnya.

“Hmmm, wangi sekali,” gumamnya. Dia mencomot satu buah pisang kukus. Rasanya juga enak dan sedikit asam. Tapi bukan pisang kukus ini yang akan dia sajikan untuk keluarga kerajaan.

Sambil mengingat-ingat resep neneknya dulu, Nini Gupita mengupas kulit pisang. Lalu, pisang-pisang tersebut dilumatkan hingga halus. Karena rasa pisang yang sedikit asam, Nini Gupita menambahkan sedikit gula dan garam.

“Ini enak,” katanya sedikit bersorak.

Tapi, pekerjaan Nini Gupita belum selesai. Dia bergegas mengambil daun pisang dan membersihkannya. Lalu, Nini Gupita mengisinya dengan adonan pisang tadi. Dia membuat bungkusan berukuran kecil, dengan bentuk memanjang, dan merekatkan ujungnya dengan lidi.

“Sedikit lagi,” seru Nini Gupita penuh semangat.

Dia menata bungkusan tersebut, lalu kembali mengukusnya. Tak lama kemudian, Nini Gupita membuka penutup wadah. Aroma pisang kukus yang bercampur dengan aroma daun pisang tercium.

“Mereka pasti akan menyukainya,” gumam Nini Gupita senang.

*

Sore harinya, Nini Gupita menyajikan makanan tersebut. Dia mengantarkannya ke pendopo, tempat Raja dan keluarganya te ngah berbincang santai.

“Makanan apa yang kau bawa, Nini?” tanya Putri.

“ Resep olahan pisang terbaru, Tuan Putri,” katanya.

Semua anggota kerajaan terlihat kecewa, namun mereka tetap penasaran dengan resep baru tersebut. Perlahan, mereka mengiris bungkusan pisang tersebut. Di dalamnya, adonan pisang berubah warna menjadi ungu.

“Aromanya wangi sekali,” kata Raja. Dia mengambil satu irisan kecil dan memasukkannya ke mulut. “Hmm… ini enak sekali.”

“Benar. Ini berbeda dengan olahan pisang yang biasanya,” sahut yang lain.

Nini Gupita membungkuk pelan. Lalu, dia bercerita tentang persediaan pisang di dapur yang banyak. Karenanya, dia memikirkan cara mengolah pisang yang baru.

Atas perintah Raja, Nini Gupita membagikan resepnya untuk seluruh rakyat Panjalu. Resep baru Nini Gupita pun menjadi penganan favorit bagi semua rakyat Panjalu. Mereka kerap memakannya bersamaan dengan teh hangat di sore hari.

Hingga sekarang, penganan yang dinamakan getuk pisang ini juga terkenal sebagai oleh-oleh khas dari Kota Kediri. *


[1] Disalin dari karya Leanita Winandari
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” edisi Minggu,7 Oktober 2018