Riyu Pasti Bisa

Karya . Dikliping tanggal 30 Juli 2018 dalam kategori Cerita Anak, Suara Merdeka

Haphaphap… Sekuat tenaga Riyu si merpati pos mengepakkan sayapnya. Ia berusaha terbang melewati sebuah menara. Namun sayang, ia kehabisan nafas. Riyu terbang kembali dan hinggap di dahan sebuah pohon.

Hahahaha… Riyu mendengar suara tawa. Saat menoleh ke pohon sebelah, ia melihat Kukuk, Upit, dan Kaok tertawa terpingkal-pingkal.

”Payah kamu, Riyu! Masa mencapai puncak menara saja kamu tidak mampu,” ejek Kukuk.

”Iya, bagaimana kamu bisa jadi merpati pos yang andal,” tambah Upit.

”Sudahlah Riyu! Kamu tidak usah sedih. Kamu jadi merpati pasar saja,” ternyata Kaok ikut mengejek juga.

Riyu memilih terbang menjauh dari ketiga temannya itu. Ia sedih, karena belum bisa memenuhi banyak syarat untuk menjadi merpati pos yang tangguh. Ia masih harus banyak belajar dan berlatih. Sebenarnya, Riyu pun masih ragu. Ia bukan merpati yang berbadan kekar. Ia kecil, kurus, dan sayapnya sedikit melengkung. Warna badannya coklat kehitaman dan ada bagian kusam di sekitar perutnya.

Ia tidak keren dan tidak sempurna seperti merpati pos lain yang berdada tegap dan berbulu putih bersih. Meski demikian, Riyu punya tekad kuat untuk menjadi merpati pos yang bisa diandalkan.

Apa yang harus aku lakukan ya? Pikir Riyu bergegas kembali ke sarangnya.

”Riyu..!” tiba-tiba Riyu mendengar suara memanggilnya. Riyu membalikkan badan dan melihat Kapten Puck menghampirinya.

”Ada apa, Kapten?” Riyu memberi hormat pada Kapten merpati pos itu.

”Ini, ada surat yang harus segera dikirim. Aku menugaskan kamu untuk mengantar surat ini.”

Riyu kaget.

”Tapi Kapten, aku belum pernah bertugas mengirim surat.” Kapten Puck tersenyum.

”Sekarang saatnya kamu bertugas! Pergilah, sebelum hari sore,” kata Kapten sambil memberikan sepucuk surat pada Riyu. Walau ragu, Riyu menerima tugasnya. Apalagi di langit tampak awan gelap. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan.

Sejenak Riyu memejamkan matanya dan menarik nafas panjang. Ia pun segera terbang menuju daerah alamat surat.

Di perjalanan, hujan mulai turun. Semula rintik- rintik, kemudian menjadi hujan deras. Sesekali angin kencang membuat oleng Riyu kecil. Tanpa disadari, ia berbelok arah. Riyu sadar kalau dirinya tersesat ketika merasa sudah melewati pohon beringin yang sama sebanyak tiga kali. Riyu pun berhenti. Sambil beristirahat, ia mengingat-ingat jalan yang seharusnya dilewatinya. Setelah merasa pasti, Riyu terbang lagi.

Baru beberapa kepakan sayap, tiba-tiba dari samping kanan dan kirinya ada dua elang yang besarnya tiga kali tubuhnya. Dua elang itu menatap Riyu tajam. Matanya seolah mengatakan, kamu adalah santapanku. Riyu langsung gemetar. Seketika terbangnya tidak tentu arah dan ia hampir menabrak sebuah batang pohon.

”Aku harus tenang,” ucapnya pelan.

”Aku pasti bisa!” Riyu berteriak sambil menukik tajam ke bawah, menghindari dua pemangsa yang sedang bersiap menyerang ke arahnya.

Melihat mangsanya kabur, dua elang itu berusaha mengejar Riyu. Mereka terbang bersamaan berusaha berebut mangsa. Namun yang terjadi, keduanya malah bertabrakan dan nyaris terjatuh. Kesempatan itu tidak disia-siakan Riyu. Ia segera terbang sekuat tenaga, menjauh dari tempat itu, kemudian mencari persembunyian yang aman. Ketika dua elang yang masih oleng itu sadar kalau mangsa yang dikejarnya sudah tidak ada, mereka pergi meninggalkan tempat tersebut.

Merasa sudah aman, Riyu melanjutkan perjalanan. Tubuhnya basah, sayapnya nyaris tidak kuat lagi.

Tapi, ketika dilihatnya tempat yang dituju sudah dekat, Riyu berusaha terbang dengan sisa kekuatannya.

”Sedikit lagi… sudah hampir sampai. Aku pasti bisa mengantarkan surat ini dengan selamat.”

Sampai di tempat tujuan, Riyu langsung menyerahkan surat yang dibawanya, lalu tergolek lemas.

Matanya masih setengah terpejam, ketika dilihatnya banyak merpati mendekatinya dengan wajah gembira. Dan ada Kapten Puck di sana. Ah, aku pasti sangat lelah sampai bermimpi. Batinnya.

Tapi, Kapten yang dilihatnya mendekat, lalu menepuk dadanya.

”Aku bangga padamu, Riyu!” ucap Kapten.

”Wah, apa yang terjadi Kapten?” Riyu masih belum percaya.

”Sebenarnya ini adalah ujian untuk menentukan apakah kamu sudah cukup tangguh untuk menjadi seekor merpati pos yang bisa diandalkan. Dan lihat, ternyata tubuhmu yang kecil tidak menghalangimu untuk menghadapi bahaya di luar sana. Kamu hebat, Riyu. Selamat, kamu lulus.”

Lalu ucapan Kapten Puck disambut riuh sorak dari merpati-merpati lainnya.

Tiba-tiba, dua ekor elang menerobos masuk. ”Riyu memang hebat, Kapten! Kami saja berhasil dikecohnya,” kata salah satu elang.

Riyu terkejut. ”Jadi kalian..?”

”Ya, kami ditugaskan Kapten Puck untuk mengujimu juga.”

Riyu tertawa. Ia bahagia karena berhasil melewati ujian dengan baik. kini ia sudah siap menjadi merpati pos andal. Ia pun sadar, kekuatan terbesar sudah ada dalam dirinya. (49)

 

[1] Disalin dari karya Octa Berlina

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu, 22 Juli 2018

Sila Nilai-Bintang!