Sahabat

Karya . Dikliping tanggal 12 Februari 2019 dalam kategori Cerita Anak, Majalah Bobo

“Prit, Prita! Sini deh!” teriak Ully kencang. Aku yang duduk di sebelahnya sampai menutup telinga.

“Sebentar ya, Ully!” Prita yang baru tiba, meletakkan tas sekolahnya di bangku. Seperti biasa, senyum tak pernah lepas dari wajah manisnya. Aku iri padanya.

Iya, iri. Coba saja lihat. Aku yang dari tadi duduk di sebelah Ully, diacuhkan Ully. Tapi begitu Prita datang, Ully langsung mengeluarkan sekotak kecil kue nastar, “Sini, coba cicipi nastar buatanku!”

Prita mencomot sebuah. “Mmm … enak! Kamu hebat, Ul!”

“Benar?” Ully tersipu. “Mau coba, Nit?” Ully menawari aku.

Aku mengambil sebuah.

“Bagaimana?” Ully memandang penuh harapan.

“Rasanya aneh,” komentarku. “Nastar yang di Citra Snack jauh lebih enak.”

“Tentu saja!” ujar Prita cepat. “Mereka kan ahlinya. Sedang Ully baru pemula. Ini saja sudah enak sekali, kok.”

“Anehnya di mana, Nit?” tanya Ully.

Aku bingung. Aku tahu nastar buatan Ully ini ada yang kurang. Tapi kurang apanya aku tak tahu.

“Enak kok. Enak!” Prita mencomot lagi. “Cuma, gula di selainya perlu dikurangi sedikit. Lalu, menteganya ditambah sedikiiiiit lagi. Tapi begini saja sudah enak kok. Aku yakin, kamu bakal jadi pembuat kue jempolan, Ul!”

“Wah, trims!” wajah Ully berseri-seri. “Kamu tahu, Prit, kemarin aku sempat kesal. Habis, Kak Lia bilang aku kurang berbakat. Katanya kuenya kurang enak. Kupikir, aku mau minta pendapatmu dulu. Aku tahu kamu memang bisa diandalkan!”

“Trims, atas pujiannya,” senyum Prita.

Aku cemburu. Dalam hati aku kesal. Prita ini memang pintar cari muka. Tak heran kalau temannya banyak sekali. Sedang aku? Teman-teman bilang aku galak.

“Prit, Prita!” Mala melambai-lambai dari jendela.

“Ya …” Prita balas melambai.

“Yuk, ke sana!” Ully membawa kotak kuenya. “Aku mau menawari Mala.”

“Yuk, Nita!”

“Malas, ah!” aku menggeleng. Aku tak suka pada Mala yang lamban. Sudah dua kali ia tidak naik kelas. Entah mengapa Prita bisa akrab dengannya.

Aku sedang termenung ketika Rosa datang. Ia anak kelas 6A, sedang aku 6B.

“Nit, datang ya ke pestaku!” kata Rosa seraya mengulurkan sebuah kartu.

“Oh, kamu ulang tahun? Ah, aku pasti datang!” ujarku bersemangat. Rumah Rosa besar sekali. Ada kolam renangnya lagi. Sudah pasti pestanya meriah.

“Prita mana, ya? Aku mau mengundang dia juga.”

“Baru saja keluar,” sahutku. Aku jadi kecewa karena Rosa mengundang Prita juga.

“Nit, titip undangan ini ke Prita, ya?”

Agak enggan aku mengangguk. Kuterima kartu itu. Prita lagi. Selalu Prita. Aku jengkel membayangkan Prita ikut menikmati pesta itu nanti. Eh, hei! Aku ada ide! Undangannya tak usah kuberikan padanya. Jadi ia tidak tahu tentang pesta Rosa. Kalau nanti ditanya, bilang saja aku lupa. Ya! Kalau nanti Prita marah, itu urusan belakangan. Yang penting jangan sampai ia ikut menikmati pesta Rosa. Aku tersenyum sendiri.

Seperti bayanganku, pesta Rosa memang hebat. Badutnya lucu, kue ulang tahunnya indah. Dan yang lebih penting, Prita tidak hadir. Aku puas sekali.

Ketika melihat Prita di sekolah esoknya, aku merasa menang. Baru kali ini aku bisa mengalahkannya. Eh, tahu-tahu Rosa muncul.

“Prit, jahat kamu! Kok tidak datang ke pestaku sih?” serunya.

“Pesta? Pesta apa?” Prita terkejut.

“Pesta ulang tahunku! Aku titip undangannya pada Nita. Kamu sampaikan, Nit?” Rosa menoleh padaku. Aku gelagapan.

Prita memandangku, lalu menepuk keningnya sendiri. “Oh, iya, Ros. Nita sudah memberikannya. Cuma aku saja yang lupa. Aduh, maaf ya, Ros! Aku benar-benar lupa!”

“Kamu ini bagaimana sih? Masa pesta ulang tahunku saja kamu lupa!” Rosa masih cemberut. Prita bolak-balik membujuknya. Aku sendiri hanya bisa diam. Sungguh, aku tak menyangka Prita akan bersikap begitu. Harusnya ia menyalahkanku. Harusnya ia bisa menghasut Rosa agar sebal padaku! Tapi ini? Prita malah membelaku dan menyalahkan diri sendiri! Bukan main! Bel masuk berbunyi.

“Pokoknya aku tidak mau tahu!” kata Rosa sebelum kembali ke kelasnya.

“Sepulang sekolah nanti kamu harus ikut ke rumahku!”

“Iya, iya!” Prita menyerah.

Sepanjang jam pelajaran, aku jadi mengingat-ingat sikap Prita selama ini. Kubandingkan dengan sikapku. Ya! Tiba-tiba saja semuanya jadi jelas. Prita memang baik hati! Ia bukan pintar cari muka, seperti tuduhanku selama ini. Sama sekali tidak. Prita itu selalu berusaha menjadi sahabat yang baik. Selalu menolong teman yang sedang susah.

Aku menyesal. Sangat menyesal. Harusnya aku tidak iri pada Prita. Harusnya aku bangga punya teman seperti dia …. Saat jam istirahat, aku mendekati Prita.

“Prit, maafkan aku, ya!” kusodorkan kartu undangan Rosa.

Prita malah tertawa ringan. “Ah, tidak apa-apa. Aku juga sering lupa.”

“Tapi …” aku ingin menjelaskan kalau sebenarnya aku tidak lupa.

“Sudahlah!” Prita melambaikan tangannya. “Aku malah senang tidak menerima kartu itu. Kalau tidak, bisa-bisa aku batal pergi ke rumah Nenek. Kamu tahu, ternyata Nenek sudah sangat rindu padaku.”

“Oh ya?” aku merasa lebih enak. “Kamu tahu, Prit, aku juga senang kalau bertemu Nenek. Beliau tinggal di ….” Dan untuk pertama kalinya aku bercerita banyak pada Prita. Dia menyambut ceritaku dengan antusias. Tak terasa kami jadi akrab.

Aku senang sekali. Hari ini aku punya sahabat baru ….

Terima kasih, Prita. Aku ingin menjadi sahabat yang baik. Seperti kamu. ***


[1] Disalin dari karya Etlin Chandra
[2] Pernah tersiar di “Majalah Bobo” No. 44 Tahun XXVII 3 Februari 2000

Sila Nilai-Bintang!