Satu Pohon Pinang Lagi

Karya . Dikliping tanggal 13 Agustus 2018 dalam kategori Cerita Anak, Lampung Post

SUASANA lapangan semakin riuh saja. Suara sorakan dan tepuk tangan bercampur dengan suara ibu-ibu yang mengarahkan anak- anaknya untuk memilih hadiah yang paling besar.

“Biar aku yang di bawah. Setelah itu Khalil, Arka, dan terakhir Arik. Bagaimana?” tanya Gadang sudah tidak sabar.

“Siip!” jawab ketiga sahabatnya kompak.

Setelah kelompok Darpa dan teman-temannya selesai, tibalah giliran Gadang. Belum ada kelompok yang berhasil menjatuhkan satu pun hadiah.

“Bismillah,” ucap Ga- dang sambil membungkukkan badannya memeluk batang pinang yang dilumuri dengan oli. Khalil lalu menaiki bahu Gadang sambil berpegangan pada pohon pinang. Arka pun menyusul, posisi Khalil masih setengah membungkuk di atas bahu Gadang. Arka berhasil duduk di pundak Khalil.

“Ayo, bantu dorong aku ke atas,” pinta Gadang pada Arik.

Arik sigap mendorong badan Gadang ke atas. Pelan tapi pasti, Gadang telah berdiri tegak memeluk pohon pinang.

“Sekarang aku akan naik,” ujar Arik sambil memeluk pohon pinang dan salah satu kakinya bertumpu pada punggung bawah Gadang. Gadang meringis menahan beban di pundaknya. Arik berhasil menaiki punggung Khalil dan Khalil pun berusaha menegakkan badan pelan-pelan. Sekarang Arik bersusah payah menaiki pundak Arka. Pundak Khalil dan Gadang terasa perih.

“Cepat, Rik!” teriak Gadang dari bawah.

Arik hampir tergelincir karena pohon pinang begitu licin. Arka berjuang keras agar bisa tegak berdiri di atas pundak Khalil. Sekarang, Arik berhasil berdiri dan meraih salah satu jari-jari lingkaran tempat aneka hadiah bergantungan. Arik bergantungan, dan sayangnya sepeda yang telah mereka sepakati untuk diambil berada di seberang Arik. Perlu beberapa jari-jari lagi untuk bisa menyentuhnya. Sorak-sorai penonton makin riuh. Sebagian besar merekam dengan ponsel.

“Ayo, Rik! Sepeda untuk kita!”

“Kamu bisa!”

“Kamu kuat! Semangat!”

Arik sudah tidak tahu lagi siapa yang berteriak. Arik merasakan lengannya mulai lemas bergantungan. Untuk sampai di sini mereka telah mengeluarkan semua tenaga. Kelompoknyalah yang pertama berhasil sampai di lingkaran hadiah. Jangan sampai kesempatan ini lepas begitu saja. Satu jari-jari lingkaran hadiah lagi ia akan sampai pada sepeda untuk mereka ke sekolah. Mereka berjanji memakainya bergiliran.

Tapi, Arik merasa haus dan lengannya terasa panas. Pegangannya kian terasa licin dan melemah. Tiba-tiba…

Hap!

Dengan semangat yang membara, Arik berhasil memegang sepeda berbungkus plastik itu. “Sepeda! Panitia, sepeda! Kami memilih ini! Sah?” tanya Arik pada semua orang di bawahnya.

Tim panitia dan penonton menjawab serentak, “Saaah!!!”

Arik pun meluncur senang. Lengannya terasa kebas. Gadang, Khalil, Arik, dan Arka pun berpelukan penuh semangat. Keringat membasahi baju mereka yang kotor.

Tim panitia pun menurunkan sepeda dengan menggunakan tangga aluminium. Arik dan teman-temannya menerima sepeda itu dengan tawa semringah. Tak sia-sia kerja keras mereka. Setelah itu beberapa kelompok masih bergiliran bertarung untuk mengklaim hadiah impian mereka.

Karena Tim Arik sudah mendapatkan hadiah, maka tidak boleh ikut lagi karena pesertanya cukup banyak. Bahkan ada anak-anak yang berasal dari desa tetangga.

“Satu pohon pinang lagi di Desa Utara. Gimana?” usul Gadang.

“Demi sepeda impian kita!” seru Khalil, Arka dan Arik serentak.

*

Tibalah Gadang dan teman-temannya di lapangan Desa Utara. Hadiahnya sangat banyak di sini. Beberapa barang elektronik, perlengkapan sekolah, dan barang-barang rumah tangga impian ibu-ibu mereka. Tapi, bukan itu yang membuat mereka senang, melainkan dua buah sepeda yang masih tergantung dengan gagahnya.

Sepeda yang tadi mereka dapatkan bisa untuk Arik dan Arka ke sekolah. Sep da yang ada boncengannya di belakang. Sekarang, misi mereka hanya satu sepeda lagi, yang bisa dipakai Gadang dan Khalil berangkat berdua ke sekolah.

Tibalah giliran Gadang dan teman- teman. Mereka mengguna kan taktik saat memanjat pohon pinang yang pertama. Tapi apa daya, ketika Arik sampai di pundak Arka, mereka semuanya tergelincir.

Kelompok lain bergiliran lagi. Ada yang sudah menjatuhkan kipas angin. Dan kelompok anak setelah itu, berhasil mengklaim sebuah sepeda. Gadang saling berpandangan dengan teman- temannya. Wajah mereka cemas.

“Semangat! Kita pasti bisa!” seru Khalil.

Kali ini posisi mereka ditukar. Gadang yang terakhir dan Arik bersedia paling bawah. Mereka melakukan dengan taktik yang sama. Pelan tapi hati-hati. Arik meringis menahan beban sambil memeluk pohon pinang erat-erat. Tetapi, lima detik kemudian Arik merasa begitu ringan dan bebas. Arka dan Khalil sudah melompat ke bawah. Rupanya Gadang sudah berhasil bergantung di jari-jari lingkaran tempat aneka hadiah impian mereka.

Mereka mendongak ke atas. Berteriak menyemangati Gadang untuk bisa berpindah tiga jari-jari lingkaran saja untuk mengklaim sepeda impian mereka. Tapi, di luar dugaan, Gadang berteriak lain.

“Aku memilih TV LED ini. Panitia, sah?” teriak Gadang.

“Saaah!!!” jawab panitia dan penonton serentak.

Khalil dan si kembar kecewa.

*

Gadang, Khalil, Arik dan Arka ke sekolah mengendarai sepeda masing- masing. Bahkan, masing-masing mereka membonceng anak-anak tetangga mereka yang baru masuk SD.

Keputusan Gadang untuk memilih TV tidak sia-sia. TV itu langsung mereka jual dan dapat membeli tiga sepeda. Al- hamdulillah. Ini buah dari kompaknya persahabatan mereka.(*)

 

[1] Disalin dari karya Mutiara Aryani

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” edisi Minggu, 12 Agustus 2018

Sila Nilai-Bintang!