Si Jago Randai

Karya . Dikliping tanggal 3 September 2018 dalam kategori Cerita Anak, Kompas

Sebentar lagi musim panen di Kampung Pariangan, Sumatera Barat akan tiba. Kampung itu adalah tempat tinggal Zul. Tentunya sebagai orang Minang ia ingin sekali mengikuti acara musim panen itu nantinya.

Bila musim panen telah tiba akan ada perayaan yang menampilkan permainan randai.  Ya, randaiadalah permainan tradisional Minangkabau yang dimainkan secara berkelompok membentuk lingkaran, sambil pesertanya menyampaikan cerita dalam bentuk nyanyian dan digabungkan dengan gerakan-gerakan secara berganti-gantian. Itu semua dilakukan semata-mata sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas panen yang berlimpah.

Dan Zul ingin sekali ikut dalam permainan randai  itu.

Dan pada malam ini, sebelum perayaan tiba, para pemain randai pun melakukan latihan lebih dulu di rumah inyiak Bahar atau Kakek Bahar, kakek Zul. Zul pun sudah berada di sana. Ia ingin diizinkan untuk bisa berlatih randai dan ikut meramaikan perayaan panen nanti.

“Kakek bukannya melarang kamu untuk ikut berlatih randai. Tapi kakek lihat kamu itu masih terlalu kecil, belum bisa melakukan gerakan-gerakan yang menguras tenaga.”

“Tapi kalau hanya melihat-lihat saja bolehkan, Kek?” tanya Zul.

“Silakan!”

Zul yang tidak diizinkan ikut permainan randai oleh kakeknya tidak patah semangat. Ia dengan seksama melihat para pemain randai berlatih. Ia juga terus mengingat-ingat setiap gerakan demi gerakan yang dilakukan oleh mereka. Usai itu ia mempraktekannya  di depan rumah seusai belajar.

Beberapa bulan kemudian, musim panen berikutnya hampir tiba.

Zul yang terus berlatih randai dengan tekun hampir setiap hari di rumahnya, ternyata lalu dipanggil oleh inyiak Bahar, kakeknya itu.

“Sebentar lagi perayaan musim panen segera tiba. Karena ada salah satu pemain randai  yang sakit, maka kakek meminta kamu yang menggantikannya.” kata inyiak Bahar. “Kamu siap, Zul?”

Zul lalu lantang berujar, “Siap, Kek!”

“Baiklah! Besok kamu sudah bisa ikut latihan bersama dengan para pemain randai  lainnya,” kata Kakek Bahar.

Zul merasa sangat senang. Kerja keras dan ketekunannya berlatih randai selama ini ternyata membuahkan hasil.

“Ini hasil latihan kamu dengan tekun dan sungguh-sungguh, sehingga kakek layak menjadikan kamu salah satu pemain yang ikut dalam acara perayaan nanti. Kakek tahu kamu berlatih terus di rumah. Ayahmu yang memberitahukannya ke Kakek. Dulu ayahmu juga seorang pemain randai yang rancak dan lincah.”

“Benarkah itu, Kek?”

“Tanya sajalah sama apakmu itu.”

Zul makin tidak sabar untuk menunggu perayaan musin panen tiba. Ia juga ingin meminta ayahnya untuk berbagi cerita saat menjadi pemain randai dahulu. Zul ingin sekali mendengarkannya, agar menjadi penyemangat untuknya nanti. *

 

[1] Disalin dari karya Kak Ian

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” rubrik Nusantara Bertutur edisi Minggu, 2 September 2018

Sila Nilai-Bintang!