Si Kembar

Karya . Dikliping tanggal 7 Januari 2019 dalam kategori Cerita Anak, Suara Merdeka

Namaku Cita. Aku mempunyai dua saudara kembar yaitu Cika dan Cila. Aku lebih menyukai Cika karena ia tidak manja dan cantik. Tapi aku juga tidak benci kepada Cila. Cila agak berbeda dari Cika. Cila menurutku agak manja dan lebih sering menangis.

Pagi ini aku berangkat sekolah bersama Cika dan Cila. Di sekolah ada pelaksanaan upacara. Yang bertugas menjadi petugas upacara adalah kelas 6A, kelas kami. Kami bertiga menjadi pasukan Paskibra… ya.. mungkin karena kami bertiga kembar.

Setelah upacara usai, istirahat pun tiba. Aku, Cika, dan Hana, teman dekat kami berkumpul di kantin sekolah. Hana menanyakan sesuatu kepada kami.

“Cika, Cita, kalian senang tidak lahir kembar bertiga.”

Aku menjawab sekenanya, “Senang, memang kenapa?”

“Engga kenapa-kenapa sih…,” jawab Hana. Lalu Hana bertanya lagi.

“Kalian senang mempunyai kembaran seperti Cila?” tanya Hana sambil memakan cemilan yang ada.

Tiba-tiba Cika menyela pembicaraanku. “Aku tidak suka dengan Cila, dia selalu manja. Bahkan saat ulang tahun kami, Cila merengek ingin membuka semua hadiah!” jawab Cika dengan nada kasar dan marah.

Tak disangka, saat itu ternyata ada Cila yang ingin memberi makanan kepada kami dan dia sedang berada di dekat pintu kantin. Betapa terkejutnya Cila mendapati jawaban itu. Ia menangis dan kembali ke kelas.

***

Pelajaran terakhir yaitu Bahasa Inggris yang dipimpin oleh Miss Isna. Aku berusaha membujuk Cila agar tidak marah. Tetapi bujukanku tidak membuahkan hasil, Cila tetaplah marah. Sampai akhirnya bel pulang pun tiba. Kami bertiga pulang dengan tak begitu akrab.

Di rumah, Cila segera mengadukan apa yang terjadi disekolah kepada Mama. Sudah aku tebak. Itu yang terkadang mungkin membuat Cika kurang menyukai Cila. Dia menangis ditambah suka mengadu. Mama pun menyuruh Cila pergi ke kamar dan memanggil Cika. Mama menasihati Cika dengan nada lembut dan penuh kasih sayang.

“Cika sayang, kita tidak boleh merendahkan orang lain seperti itu. Kita tidak tahu perasaan orang yang kita sakiti. Suatu ketika ia akan membantumu saat kau butuh pertolongan. Kalian bertiga bersaudara jadi harus saling menyayangi,” nasihat Mama.

Ternyata nasihat Mama berubah menjadi kenyataan. Esok harinya Cika ingin membeli jajan di pinggir jalan. Tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan cepat menuju ke arah Cika. Cika berlari ketakutan, aku pun tak bisa berbuat apa apa. Cila bergerak cepat menolong Cika. Ya memang Cila sering memenangi lomba lari. Dia sering juara. Gerakanya sangat cepat dan gesit. Alhamdulillah, Cika selamat. Kami terengah- engah karena ketakutan. Peristiwa itu membuat kami saling menyadari satu sama lain.

Sejak saat itu Cika meminta maaf. Sebagai permohonan maaf, Cika memberi Cila dan aku sebuah gelang dan gantungan kunci yang persis sama dan yang bertulisakn “Best Sisters Forever”.(49)

Nayaka Hilmiya Syah Kelas IV SD IT Mutiara Hati Patemon Gunungpati Semarang


[1] Disalin dari karya Nayaka Hilmiya Syah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 6 Januari 2019

Sila Nilai-Bintang!