Si Mungil Bermata Besar

Karya . Dikliping tanggal 12 Maret 2019 dalam kategori Cerita Anak, Kompas

Matahari pagi bersinar lembut menyapa seluruh penghuni Pulau Belitung. Namun di suatu hutan di Bukit Peramun, terdengar suara hewan yang sepertinya sedang kesal. Di situ Peli terlihat sangat murung. Ia memeluk satu ranting kecil dengan erat sambil menggerutu, “Aku tidak mau berangkat ke sekolah.”

Melihat sikapnya, ayah Peli yang berada di pohon lain segera menghampirinya. Dengan sebuah tolakan kaki belakang yang kecil namun panjang mampu membuat tubuhnya melesat hingga menjangkau dahan yang jaraknya lebih dari 3 meter. Lompatan yang menakjubkan!

Peli adalah hewan endemik Pulau Belitung. Orang-orang memanggilnya Pelile’an. Ia adalah Tarsius yang ukuran tubuhnya tak lebih dari setengah kepalan tangan orang dewasa.

Matanya sangat besar jika dibandingkan dengan tubuhnya yang mungil dan ia memiliki kuping lebar. Hal itu membuat Peli menjadi bahan ejekan hewan lain di sekolahnya, sehingga ia sedih dan tidak pernah tersenyum. Peli memandang ayah dan berkata, “Ayah, aku adalah hewan primata terkecil dengan bentuk yang sangat aneh.”

Ayah mendekat dan berkata, “Semua yang Tuhan ciptakan pasti memiliki keistimewaan. Mereka yang sekarang meledek, pasti karena belum tahu kelebihan dan keistimewaanmu.”

Ayah lalu memeluk Peli. “Peli harus tetap semangat. Apapun yang mereka katakan, ayah tetap sayang pada Peli. Ayah akan selalu mendukungmu.”

Peli membalas dengan pelukan yang erat kemudian melompat dari dahan ke dahan untuk menuju sekolahnya.

Sesampainya di sekolah dan ada teman-teman yang meledeknya, Peli ingat pesan ayah untuk selalu semangat.

Hari itu Peli bersama teman-temannya berada di sekolah hinga sore, karena ada tugas khusus yang harus diselesaikan. Ketika saatnya pulang, hari mulai gelap dan suasana malam di hutan sangat mencekam. Teman-teman Peli takut karena mereka tidak bisa melihat dengan baik dalam kegelapan. Mereka takut tidak dapat menemukan jalan pulang.

Peli lalu berkata, “Kalian tidak usah takut, karena aku akan memandu kalian untuk pulang.” Peli mengambil posisi di depan untuk memandu teman-temannya.

Teman-temannya sangat takjub dengan kemampuan Peli menentukan arah dan melihat dalam kegelapan. Sesekali Peli memutar kepalanya nyaris 360 derajat untuk melihat suasana dan keadaan sekeliling, tanpa harus mengubah posisi badannya. Itu adalah salah satu kemampuan Peli yang tidak dapat dilakukan teman-temannya dari jenis primata lain.

Setelah melalui perjalanan malam yang mencekam, satu persatu tiba di rumah. Semua temannya berterima kasih pada Peli. Mereka takjub dengan kemampuan Peli dan kebaikan hatinya.

Sejak hari itu tak ada lagi yang meledek Peli, karena semua tahu ia adalah hewan istimewa. Peli bisa tersenyum kembali. *


[1] Disalin dari karya Kak Resha
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” rubrik Nusantara Bertutur edisi Minggu, 10 Maret 2019

Sila Nilai-Bintang!