Sostel dan Sayur

Karya . Dikliping tanggal 9 Oktober 2018 dalam kategori Cerita Anak, Suara Merdeka

Dinda hanya memandangi makanan di piringnya. Hampir setengah jam ia mengaduk- aduk nasi dan sayur tanpa menyendok sekalipun. Padahal banyak yang memuji kalau pecel buatan Mama sungguh lezat.

”Ayo Dinda, dimakan sayurnya,” bujuk Mama dengan sabar. Disodorkannya semangkuk sayur sop yang baru selesai dimasak Mama.

”Sudah kenyang,” jawab Dinda ketus. ”Pokoknya Dinda nggak mau makan sayur.”

”Sayang, sayur itu bagus buat kesehatan. Dinda kan sedang dalam masa pertumbuhan, jadi harus banyak makan sayur.”

Dinda tak menyahut perkataan Mama, ia justru masuk kamar dan mengacuhkan panggilan Mamanya. Dinda merasa sebal karena orang tuanya melarang ia jajan sostel malah menyuruhnya makan sayur. Ia merasa jijik dan ingin muntah jika melihat kubis, bayam, dan kacang.

Beberapa hari yang lalu setelah pelajaran olahraga, siswa-siswi kelas VI SD Kusuma Bangsa segera menyerbu kantin. Seperti biasa mereka pasti memesan es teh, es sirup atau jus. Berbeda dari teman-teman sekelas, Dinda dan Nina minum teh hangat terlebih dahulu. Karena Dinda tidak membawa bekal, maka ia pun memesan nasi dan sayur sop dari kantin. Belum sempat ia menyendok, Dinda melihat dua ulat kecil mengambang dalam kuah sopnya. Seketika ia menjerit ketakutan. Ia pun bersyukur belum memakan sayur.

”Tenang, Dinda. Ulatnya sudah mati. Tidak apa-apa,” hibur Nina.

Tetapi Dinda yang sudah merasa jijik tidak mau melanjutkan makannya. Ia lantas membenci sayur. Janganjangan di semua sayuran ada ulatulatnya, hiii…. pikir Dinda. Ia bergidik membayangkan jika ulat-ulat itu termakan olehnya. Mereka akan hidup di perut Dinda dan membuatnya cacingan.

Karena itu, Dinda memilih sostel untuk mengisi perutnya. Jajanan berupa sosis goreng yang dibalut telur dan dibumbui saus tomat itu sedang populer saat ini. Rasanya sangat enak dan Dinda pun menyukainya.

”Dinda, jangan beli jajan yang aneh-aneh lagi,” larang Mama waktu mengetahui anaknya suka jajan sembarangan.

”Sostel itu enak, Mama,” bantah Dinda.

”Tapi kita tidak tahu makanan itu higienis atau tidak, Sayang. Makan sayur saja, ya.”

”Enggak.”

Bahkan Dinda tak mau makan bekal jika menemukan sayur di dalamnya. Ia hanya memilih daging atau ikan. Jika tidak, ia akan memberikan bekalnya pada teman-teman sekelasnya. Dan tentu teman-teman sekelasnya menyambut gembira.

”Dinda, masakan Mamamu sangat lezat.”

”Capjaynya enak.”

”Oseng jamurnya sedaaap.”

Dinda cuma nyengir mendengar pujian teman-temannya. Lagi-lagi, ia lebih suka jajan sostel. Ia tak peduli meski sudah dilarang oleh Mama.

****

”Teeet teeet teeet…”

Teman-teman Dinda kembali ke tempat duduk mereka begitu mendengar bunyi bel masuk. Bu Tika segera masuk kelas VI untuk mengajar.

”Anak-anak, ayo dikumpulkan tugasnya.”

Dinda enggan mengumpulkan tugas catatan makanan empat sehat lima sempurna dari Bu Tika. Banyak bagian yang kosong di kolom catatannya. Tak ada satu pun jenis sayuran yang ia makan selama seminggu ini. Ia hanya menulis daging, ikan, sosis, dan telur.

”Kenapa Dinda?”

Dinda tak menjawab pertanyaan Bu Tika. Sedari tadi ia menahan sakit di perutnya. Dinda merasa perutnya seperti ditusuk-tusuk puluhan jarum. Wajahnya pun terlihat pucat.

”Maaf Bu Guru, saya mau ke toilet.”

Begitu mendapat izin, Dinda bergegas lari ke kamar kecil siswa di belakang kelasnya. Ia mulas-mulas. Keringat dingin mengalir di sekitar keningnya. Setelah sepuluh menit, ia merasa lega. Namun begitu duduk di bangkunya, Dinda kembali mulas. Begitu seterusnya sampai terdengar bunyi bel pulang sekolah.

Sesampainya di rumah, Dinda tidak mau keluar kamar. Ia masih kesakitan dan lemas. Lagi pula ia malu pada Mama. Ia sama sekali tidak mau mendengarkan nasihat orang tua. Ia abai pada larangan Mamanya.

”Kita berobat ke dokter dulu ya, Sayang.” Mama menghampiri Dinda yang masih tiduran di tempat tidurnya.

”Maafkan Dinda, ya Ma. Dinda tidak akan jajan sembarangan lagi.”

”Iya, Sayang. Yang penting sekarang Dinda cepat sembuh.” Dinda lega sudah meminta maaf pada Mamanya. Ia berjanji lebih berhati-hati jika ingin jajan. Ia pun akan makan sayuran lagi.(49)


[1] Disalin dari karya Santi Al Mufaroh
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 7 Oktober 2018