Taktik Jitu Penjual Tahu

Karya . Dikliping tanggal 25 Maret 2019 dalam kategori Cerita Anak, Suara Merdeka

”Waduuuh.. sudah tiga hari ini tahu yang aku jual hilang tiga buah. Siapa yang mengambilnya ya?” keluh Pak Banu. Tahu buatan Pak Banu memang terkenal paling enak di desa itu. Setiap hari Pak Banu berangkat pagi-pagi, berkeliling desa untuk menjajakan tahu goreng yang dibuatnya semalam. Pak Banu berangkat membawa dua keranjang tahu dan siang hari tahu buatannya selalu sudah ludes dibeli pelanggannya.

Tapi tiga hari ini, setiap Pak Banu berhenti beristirahat di dekat tanah lapang di pinggir desa, dia selalu kehilangan tiga buah tahu. Entah siapa yang mengambilnya, Pak Banu belum tahu.

”Ada apa to, PakÖ kok Bapak kelihatan lesu sejak pulang tadi?” tanya Salu, anak laki-laki Pak Banu.

Pak Banu lalu menceritakan apa yang dialaminya tiga hari ini.

”Wah, susah juga ya Pak. Kalau Bapak berjaga-jaga terus, tentu saja tahu itu tidak akan hilang. Tapi, itu kan tempat Bapak biasa istirahat. Selama ini juga tidak pernah ada kejadian seperti itu,” Salu mulai berpikir.

”Lha itulah. Seharusnya kalau orang itu minta saja, pasti Bapak beri. Daripada mengambil tanpa izin seperti ini kan malah tidak baik,” sambung Pak Banu.

”Bagaimana kalau kita coba taktik ini, Pak?”

Lalu Salu beranjak mengambil beberapa lembar kertas dan pena, kemudian mulai menuliskan sesuatu.

”Wah, boleh juga itu Lu. Besok kita lihat apa yang terjadi ya,” sahut Pak Banu penuh semangat.

***

Keesokan harinya, seperti biasa Pak Banu berangkat pagi-pagi menjajakan tahunya. Sampai di lapangan tempat dia istirahat, Pak Banu meletakkan keranjangnya dan mulai menyelonjorkan kaki untuk beristirahat sejenak. Tak berapa lama kemudian Pak Banu mulai mengantuk, dan akhirnya tertidur. Ketika terbangun, dia tersenyum ketika tahu yang kali ini sudah disiapkannya bersama Salu semalam hilang lagi. ”Yak, sesuai rencana,” lalu Pak Banu pulang dengan riang.

Empat hari selanjutnya, Pak Banu bersama Salu terus menjalankan taktik yang sudah direncanakannya. Tahu tetap hilang, tapi Pak Banu selalu pulang dengan senyum yang ceria.

***

Hari ini hari Minggu, Pak Banu libur berjualan. Dan hari ini tepat hari keenam setelah sekian hari tahunya hilang. Pak Banu hanya duduk di rumah, membaca koran dan minum teh kesukaannya. Salu duduk di sampingnya, sedang merakit sebuah kereta-keretaan dari kulit jeruk bali.

Tak berapa lama kemudian, datang seorang anak laki-laki sebaya Salu.”PermisiÖ apa benar ini rumah Pak Banu?”tanyanya malu-malu.

Pak Banu dan Salu berpandangan sejenak.

”Iya benar. Saya Pak Banu. Ada apa ya?”

Anak kecil itu menatap ragu dan sedikit takut. ”Maaf, PakÖ selama ini saya yang selalu mengambil tahu goreng buatan Bapak. Saya terpaksa karena saya tidak punya uang. Ibu dan adik saya sakit dan ayah saya tidak pulang-pulang. Adik saya hanya mau makan kalau ada tahu buatan Bapak,” kata anak itu sambil mulai menangis sesenggukan.

”Maaf ya, Pak.”

”Siapa nama kamu?” tanya Pak Banu sambil mengajak anak itu duduk di teras rumahnya.

”Saya Putu, Pak,” sahutnya masih sesenggukan.

”Sudah, tidak usah menangis,” kata Pak Banu. ”Lalu, apakah kamu sudah mencobanya? Membuat tahu sesuai dengan resep yang selama ini kamu ambil?”

Putu mengangguk pelan, lalu dia mengeluarkan lima lembar kertas yang ternyata berisi lima langkah mudah membuat tahu. ”Tapi langkah terakhir saya belum dapat. Bapak libur hari ini,” kata Putu malu-malu.

Pak Banu tersenyum ramah, lalu dia mengangguk pada Salu yang sedari tadi memperhatikan di samping Pak Banu.”Putu, ini anakku Salu. Kamu bisa berteman dengannya. Dan mulai hari ini, kamu bisa belajar membuat tahu bersamanya. Kalau Salu yang seumuran denganmu saja sudah bisa membuat tahu, Bapak yakin kamu juga bisa. Kamu bisa datang ke sini tiap hari, kamu lihat cara membuatnya, lalu kamu bisa pulang membawa beberapa tahu goreng kesukaan adikmu.”

Putu tersenyum lebar dan memeluk Pak Banu. ”Terima kasih, Pak.Saya janji tidak akan mencuri lagi.” (49)


[1] Disalin dari karya Octa Berlina
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 24 Maret 2019