Teman Baru

Karya . Dikliping tanggal 23 Juli 2018 dalam kategori Cerita Anak, Lampung Post

MALAM itu Sofi nampak gelisah. Ibu yang sedari tadi mengamatinya jadi cemas. Ibu lalu bertanya pada Sofi, “Nak, kenapa kamu kelihatan gelisah?”.

”Sofi takut, Bu, besok kan Sofi sudah mulai sekolah.”

“Kenapa takut?”

“Sofi takut tidak punya teman, Bu.”

“Kenapa harus takut?” tanya ibu.

“Tadi siang Tari cerita. Katanya, biasanya di sekolah itu ada anak yang suka pilih-pilih teman, Bu. Belum lagi anak yang suka jahil atau suka ngledekin. Kata Tari , dulu waktu dia di sekolah baru suka diledekin karena ayahnya tukang bakso keliling. Sofi takut diledekin juga karena pekerjaan ayah cuma kuli bangunan, Bu.”

“Sofi malu dengan pekerjaan ayah, Nak?,” tanya ibu.

Sofi terdiam dan kemudian menggelengkan kepalanya.

“Nak, ayah memang cuma kuli bangunan, tapi ayah selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan kita dengan uang yang halal. Coba pikirkan, lebih malu mana punya ayah kuli bangunan atau pencuri?”

“Pencuri bu. Mencuri kan enggak baik,” jawab Sofi.

“Nah, itu Sofi tahu. Sofi jangan malu atau takut tidak punya teman lagi yah! Asalkan kita selalu berbuat baik dan ramah kepada siapa pun, pasti kita bisa punya banyak teman,” ucap ibu.

Malam itu Sofi terus memikirkan ucapan ibu dan Sofi pun tidak takut lagi berangkat ke sekolah baru.

***

“Ayah, Sofi sudah tidak sabar ingin cepat-cepat sampai ke sekolah,” ucap Sofi.

“Iya nak, sabar ya. Sofi kan tahu sepeda Ayah sudah tua, makanya ayah enggak bisa cepat-cepat.”

“Iya yah, enggak papa kok.”

Ayah Sofi semakin bersemangat mengayuh sepedanya. Sepeda tua itu dengan gesit melewati batu-batu kecil dan genangan air yang menghalanginya. Sofi duduk di belakang sambil ber senandung. Lagu dengan judul Kasih Ibu dinyanyikan dengan suara yang merdu.

Dua puluh menit menempuh perjalanan, akhirnya sampailah di tempat tujuan. Ayah memarkirkan sepedanya di tempat parkir dan mengantarkan Sofi ke kelas barunya. Sofi masih tampak malu-malu. Tangan kanannya menggandeng tangan ayah dengan erat.

Puluhan anak baru nampak malu- malu dengan suasana baru yang saat ini sedang mereka temui. Ada yang digendong ibunya, ada yang menangis minta pulang, ada yang bermain riang dengan teman yang baru ditemuinya, dan ada pula yang duduk sendirian mengamati keadaan sekitar.

Beberapa anak nampak diantar dengan mobil yang sangat bagus dan beberapa lagi nampak menggunakan sepeda motor. Mungkin, hanya ayah Sofi yang memakai sepeda untuk mengantarkan Sofi ke Sekolah.

Ayah menggandeng tangan Sofi sambil mengantarkannya ke kelas. Sofi disambut hangat oleh bu guru. Ayah menitipkan Sofi pada bu guru dan pamit pulang kepada Sofi. Di dalam kelas, Sofi duduk terdiam sendiri di kursinya. Ia ingin menyapa temannya, tapi masih malu.

Di samping sebelah kirinya, seorang anak berkulit putih nampak sedih ketika ibunya meninggalkannya di antara anak- anak lain yang belum ia kenal.

“Hai,” sapa Sofi ragu pada temannya.

Anak berkulit putih itu memandang Sofi sambil masih terisak.

“Kamu kok nangis?” Tanya Sofi kemudian.

“Ibu meninggalkan aku di sini, makanya aku sedih. Aku enggak kenal siapa-siapa.”

“Sama, aku juga belum kenal siapa-siapa. Aku Sofi, kamu siapa?,” tanya Sofi.

“Aku Tasya.”

Sofi dan Tasya kemudian saling bercerita. Lama-kelamaan mereka terlihat semakin akrab. Sofi sangat bahagia dapat berkenalan dengan teman barunya.

***

“Sampai jumpa Sofi, besok kita ke- t e m u lagi ya,” ucap Tasya sambil melambaikan tangannya pada Sofi.

Sofi tak menyangka Tasya yang tadi pagi dijumpainya dengan wajah muram, sekarang sudah terlihat bahagia. Sofi lalu berlari menyambut ayah yang datang setelah Tasya meninggalkannya. Sofi memeluk ayah dengan gembira.

“Ayah, Sofi dapat teman baru, namanya Tasya. Besok Sofi kenalin ya. Tasya baik sekali. Tadi Sofi main sama dia,” cerita Sofi dengan antusias.

Pulangnya, Sofi sudah berencana menceritakan kejadian yang sudah ia alami di sekolah baru.

“Bagaimana hari pertama sekolah, Nak?” Tanya ibu.

Sofi lalu menceritakan kejadian di sekolah kepada ibu. Sofi yang awalnya takut berangkat ke sekolah baru, sekarang jadi bersemangat untuk sekolah. Lama-kelamaan karena sifat baik Sofi dan keramahannya, akhirnya Sofi berteman baik dengan semua teman di kelasnya.

Teman-teman Sofi juga tidak ada yang saling mengejek ataupun pilih-pilih teman. Ternyata benar apa yang dikatakan ibu, asalkan kita berbuat baik dan ramah, kita pasti akan mendapatkan banyak teman.

 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Umu Fatimiah

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” edisi Minggu, 22 Juli 2018

Sila Nilai-Bintang!