Teman Seperjalanan yang Aneh

Karya . Dikliping tanggal 21 Desember 2018 dalam kategori Cerita Anak, Majalah Bobo

Adalah dua sahabat. Mereka Hans dan Kunz. Keduanya mencari nafkah sebagai pencari kayu bakar. Suatu hari, ketika dalam perjalanan untuk mencari kayu bakar, mereka bertemu seorang asing. “Selamat pagi, para sahabat,” sapa orang asing itu ramah.

“Pagi,” jawab Hans dan Kunz.

Orang asing itu memperhatikan bawaan Hans dan Kunz. Katanya, “Kalian tampaknya para pencari kayu bakar. Kalian pasti akan ke hutan sana untuk mencari kayu-kayu bakar. Aku pun seorang pencari kayu bakar. Aku akan ke hutan sana pula. Boleh aku pergi bersama kalian?”

Sebenarnya, Hans dan Kunz curiga pada orang asing itu. Namun mereka tidak tahu apa yang menjadi kecurigaan mereka. Orang asing itu memang sangat aneh. Gigi-giginya panjang. Tetapi bukan hal-hal itu yang menjadi kecurigaan Hans dan Kunz. Dan karena keduanya orang-orang yang amat suka bersahabat, maka mereka pun berkata, “Tentu saja boleh. Kami sangat senang mendapat teman.”

Hans, Kunz, dan orang asing itu kemudian melangkah bersama. Sepanjang jalan mereka bercakap akrab. Akhirnya mereka pun sampai di tujuan. Segera ketiganya mengumpulkan kayu-kayu bakar. Dalam waktu tidak lama mereka telah mendapatkan hasil yang banyak. Mereka lalu pulang.

Di pinggiran hutan, ada satu padang rumput luas. Banyak kuda yang tengah merumput di situ. “Uh, capek sekali, ucap Hans.

“Bagaimana kalau kita beristirahat sebentar di sini?”

“Aku setuju,” kata si Orang Asing.

Kunz pun menyetujui. Mereka menurunkan bawaan mereka. Di bawah sebuah pohon rindang mereka lalu merebahkan diri. Si Orang Asing menguap lebar-lebar. “Aku mengantuk. Aku ingin tidur,” katanya.

“Aku juga,” ucap Hans.

“Aku juga,” kata Kunz.

Mereka meluruskan tubuh. Dengan berbantal lengan mereka lalu memejamkan mata. Segera terdengar dengkur Hans.

Kunz masih terjaga. Ia membuka mata sedikit ketika mendengar gemerisik dedaunan kering di sampingnya. Ia melihat si Orang Asing tengah memperhatikan dirinya dan Hans sudah tidur atau belum.

Orang Asing itu tampak puas melihat Hans. Dahinya terlihat berkerut. Matanya mengarah pada Kunz. Ia seperti tahu kalau Kunz belum tidur. Kunz menyadari itu. Untuk membuat orang asing itu percaya jika dirinya pun terlelap, Kunz mengeluarkan suara mendengkur. Orang Asing itu tampak senang. Ia lalu bangkit. Dilepasnya jubah panjangnya. Seketika ia berubah ujud menjadi seekor serigala besar berbulu kelabu.

Kunz kaget sekali. Dengan menguatkan diri ia meneruskan dengkurnya. Serigala itu meleset mendatangi kawanan kuda. Kunz membuka lebar-lebar matanya. Ia lalu bangkit dan memperhatikan si Serigala. Serigala itu menerkam seekor anak kuda, lalu menelannya bulat-bulat.

Setelah itu, Serigala kembali ke bawah pohon. Kunz cepat membaringkan tubuh. Matanya setengah menutup. Serigala itu memakai jubahnya, lalu kembali mejadi manusia. Ia membaringkan tubuh. Dipejamkannya mata. Tak lama dengkurnya sudah terdengar. Sementara Kunz telah kehilangan gairah tidurnya. Satu jam kemudian Hans dan si Orang Asing bangun.

“Aku tidur nyenyak sekali,” cetus Hans. “Bagaimana dengan kalian?”

“Sama,” kata si Orang Asing.

“Aku malah sampai bermimpi aneh,” ucap Kunz. Ia tak menceritakan mimpinya itu.

Mereka kemudian meneruskan perjalanan. Desa tak jauh lagi, ketika si Orang Asing berjalan tertatih-tatih. Ia lalu berhenti melangkah. Diturunkannya bawaannya.

“Perutku sakit!” erang Orang Asing itu.

Hans merasa kasihan.

Kunz berkata,” Aku pun pasti akan sakit perut apabila menelan bulat-bulat seekor anak kuda.”

Orang Asing itu menatap Kunz. Sorot matanya tajam. Dengan suara berat serta memperlihatkan taring-taringnya yang panjang ia berkata, “Jika kau mengucapkan apa yang tadi kau ucapkan di padang rumput itu, pasti itu adalah kalimat terakhir yang bisa kau ucapkan.”

“Aku tahu,” ucap Kunz. “Karena itulah, aku baru berani mengucapkannya sekarang. Perutmu yang sakit tak membuatmu berbahaya.”

Kunz lalu mengajak Hans pulang cepat-cepat. Si Orang Asing cuma memandangi. Hans dan Kunz kemudian tak pernah melihat orang itu lagi. Dan bila mereka pergi mencari kayu bakar ke hutan, mereka tidak mau lagi berjalan bersama orang yang tidak mereka kenal.*****


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Endang Firdaus
[2] Pernah tersiar di “Majalah Bobo” No. 44 Tahun XXVII 3 Februari 2000