Toko Roti Nyonya Rumika

Karya . Dikliping tanggal 23 Juli 2018 dalam kategori Cerita Anak, Suara Merdeka

“Nyonya Rumika menghitung jumlah belanjanya hari ini. Semua harga bahan roti naik separuh dari harga biasanya. Nyonya Rumika berpikir cepat. Ia juga akan menaikkan harga rotinya.

“Ini peluang yang bagus. Aku harus bisa memanfaatkannya,” gumamnya sambil membayangkan keuntungan yang akan diperolehnya nanti.

Setelah selesai menghitung berapa persen kenaikan harga roti-rotinya, Nyonya Rumika segera mencetak daftar harga baru. Ia yakin para pengunjungnya tidak akan keberatan.

Selain enak, roti-rotinya juga memiliki tekstur yang lembut. Semua orang selalu ketagihan pada kelezatan roti Nyonya Rumika.

***

Esok paginya, para pengunjung mulai berdatangan untuk membeli roti. Dalam sekejap toko roti Nyonya Rumika sudah tampak ramai.

Keributan terjadi ketika Nyonya Elena membaca perubahan harga yang tertempel di etalase.

“Nyonya Rumika, kenapa roti kismis dan roti manis ini jadi mahal sekali?’

Dengan tergopoh-gopoh Nyonya Rumika menghampiri Nyonya Elena. “Bahan roti mengalami kenaikan harga. Nyonya Elena. Aku terpaksa menaikkan harga rotiku juga.”

Nyonya Elena adalah pengunjung tetap di toko rotinya. Nyonya Rumika yakin Nyonya Elena akan tetap membeli walau dengan harga yang sudah dinaikkan dua kali lipat.

Dugaan Nyonya Rumika tepat. Setelah mengambil beberapa buah roti, Nyonya Elena melangkah menuju meja kasir. Nyonya Rumika tersenyum puas sambil menghitung total belanja Nyonya Elena.

Sayangnya, Tuan Gilberto tidak melakukan hal yang sama. Ia justru mengembalikan roti yang sudah diambilnya ke dalam etalase.

“Maafkan aku, Nyonya Rumika. Aku tak jadi membeli rotimu. Uangku tidak cukup,” ucap Tuan Gilberto.

Rupanya, tak hanya Tuan Gilberto. Pengunjung lain juga ikut mengembalikan roti yang sudah mereka ambil.

“Harga satu roti ini bisa untuk membeli tiga kue dadar di kedai sebelah,” keluh Tuan Henokh.

“Lebih baik aku bikin roti sendiri saja,” kata Nyonya Kirana ketus.

Nyonya Rumika tak dapat berkata apa-apa lagi. Satu per satu pengunjung keluar dan meninggalkan toko rotinya.

Esok paginya Nyonya Rumika membuka toko rotinya. Ia tetap yakin masih banyak yang suka dengan roti-rotinya.

“Hari ini kedai rotiku pasti ramai kembali,” ucap Nyonya Rumika dengan penuh semangat.

Akan tetapi, sepanjang hari itu Nyonya Rumika hanya duduk manis sampai terkantuk-kantuk di belakang meja kasir. Bahkan, pelanggan setianya pun tak datang.

Nyonya Rumika memandangi roti-rotinya yang masih terpajang di dalam etalase. Roti-roti yang sudah dibuatnya itu tidak mungkin dijual lagi pada esok harinya.

Nyonya Rumika menarik napas panjang. Ia tak menyangka ternyata para pengunjungnya keberatan dengan harga baru yang ditetapkannya.

Ia menghitung dalam hati. Sudah empat hari toko rotinya kehilangan pelanggan.

“Ah, bagaimana ini? Kedai rotiku terus merugi,” keluhnya. “Kalau begini terus aku tak akan bisa mempertahankan toko rotiku ini.”

Wajah Nyonya Rumika kembali cerah ketika Nyonya Elena datang pada hari kelima. Ia segera menyambut dan melayani Nyonya Elena baik-baik.

Seperti biasa, Nyonya Elena mengambil beberapa buah roti lalu membayarnya di kasir. Nyonya Elena tampak terkejut saat Nyonya Rumika menyebutkan jumlah yang harus dibayarnya.

“Maafkan aku, Nyonya Elena,” ucap Nyonya Rumika.

Ia pun menceritakan keinginannya untuk mendapat keuntungan dengan penuh penyesalan. Sesekali Nyonya Elena geleng-geleng kepala.

“Lebih baik untung sedikit tapi punya banyak pelanggan, kan?’ sindir Nyonya Elena setelah Nyonya Rumika selesai bicara.

Nyonya Rumika mengangguk pelan. Ia sadar kalau ia sudah mengabaikan pelanggannya hanya karena ingin mendapatkan keuntungan besar. Ia sungguh merasa malu dengan perbuatannya.

Kini, Nyonya Rumika harus berjuang untuk mendapatkan hati pelanggannya kembali. Dalam hati, ia berjanji tak akan serakah lagi dan lebih memperhatikan pelanggannya.(49)

 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Iliana Loelianto

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu, 22 Juli 2018