Usaha Ardi

Karya . Dikliping tanggal 11 Juli 2018 dalam kategori Cerita Anak, Lampung Post

SORE itu Ardi pulang ke rumah sambil menenteng sepatu di tangannya dan badan yang penuh keringat. Ardi nampak kelelahan setelah tadi bermain bola dengan teman-temannya di lapangan. Dengan napas yang masih tak beraturan Ardi segera mengambil segelas air minum dan duduk di samping ibunya.

“Bu, sepatu Ardi rusak waktu bermain bola,” cerita Ardi.

“Kok bisa rusak? Coba ibu lihat sepatunya.”

Ardi lalu menunjukkan sepatunya kepada ibu. Nampak lubang kecil di bagian depan sepatu Ardi.

“Wah, sudah berlubang. Nanti, ibu coba tambal sepatunya.”

“Tapi Ardi ingin sepatu baru, Bu,” pinta Ardi.

“Kalau ingin sepatu baru, berarti Ardi harus berusaha sendiri dulu. Soalnya untuk saat ini ibu belum bisa belikan sepatu baru untuk Ardi,” ucap ibu.

Wajah Ardi seketika berubah menjadi kurang bersemangat. Ardi lalu masuk ke kamarnya. Dilihatnya celengan ayam jago yang ada di meja belajarnya. Sudah lama Ardi tidak mengisi celengan itu. Uang jajannya sering habis tak bersisa.

Gimana caranya ya, supaya bisa beli sepatu baru?,” pikir Ardi.

***

Esoknya Ardi masih terlihat kurang bersemangat. Pulang dari sekolah Ardi masih saja memandangi sepatu yang ia pakai. Ia sangat ingin membeli sepatu baru dan terus memikirkan cara supaya bisa membeli sepatu baru.

Hari itu cuaca cukup panas dan Ardi merasa kehausan. Ia melihat beberapa pedagang di depan sekolah. Ardi ingin membeli es, tapi segera mengurungkan niatnya karena teringat dengan pesan ibunya agar tidak jajan sembarangan. Ardi kemudian melanjutkan perjalanannya. Di tengah perjalanan menuju rumah, tiba-tiba Ardi memiliki ide untuk menambah tabungannya.

Sesampainya di rumah Ardi segera menuju ke kamarnya. Diambilnya celengan ayam jago yang ada di meja belajarnya, kemudian dipecahnya. Ardi kemudian menghitung jumlah uang yang ia tabung selama ini. Nampak dari uang yang berserakan itu sepuluh buah koin lima ratus rupiah, lima buah koin seribu rupiah, dan lima lembar uang kertas seribu rupiah.

“Cuma dua puluh ribu rupiah. Untuk modal jualan es teh cukup tidak ya?” ucap Ardi pelan.

Ardi lalu ke dapur memeriksa tempat teh dan gula. Rupanya teh dan gula milik ibu masih banyak. Ardi tinggal membeli plastis dan sedotan saja. Tak lupa Ardi memesan es batu kepada Bu Tia, tetangga dekat rumahnya.

Malam harinya, Ardi meminta izin kepada ibu untuk memakai gula dan teh yang ada di dapur karena besok sepulang sekolah ia akan berjualan. Ibu pun menyetujui permintaan Ardi dengan catatan Ardi tidak boleh melalaikan sekolahnya. Ardi pun menyetujui permintaan ibu. Tak lupa ia meminta bantuan kepada ibu untuk mengajarinya membuat es teh yang enak dan tanpa pemanis buatan tentunya.

Ardi kembali ke kamarnya. Ia kemudian menyiapkan kertas karton dan spidol. “ES TEH TANPA PEMANIS BUATAN HANYA Rp2.000,“ tulisnya pada kertas karton yang akan ia tempel di dekat jualannya agar para calon pembeli bisa membacanya.

***

“Ayo Kak, Pak, Bu… beli es teh nya. Tanpa pemanis buatan dan dijamin enak. Cuma dua ribu rupiah. Ayo… ayo… yang dingin… yang dingin…,” teriak Ardi untuk menarik perhatian pembeli.

Ardi berjualan di jalan depan rumahnya. Letak rumah Ardi dekat dengan beberapa sekolah sehingga banyak anak-anak sepulang sekolah yang membeli es teh yang dijual Ardi.

Dari jualan es itu, lama kelamaan Ardi bisa mengumpulkan uang untuk membeli sepatu yang ia suka dan tak lupa mengembalikan teh dan gula milik ibu yang ia pakai dulu. Ardi sangat senang bisa mengumpulkan uang hasil dari kerja kerasnya sendiri.

Ketika uang yang didapat sudah dirasa cukup untuk membeli sepatu, Ardi segera menyerahkannya kepada ibu dan meminta ibu untuk membelikan sepatu untuknya. Ibu Nampak senang dengan hasil kerja keras Ardi.

Minggu pagi Ardi dan ibu hendak membeli sepatu. Ardi sangat senang karena apa yang ia inginkan akan segera didapat. Ketika Ardi hendak pergi bersama ibu, tiba-tiba nampak kepulan asap hitam dari sebuah rumah yang dekat dengan tempat tinggal Ardi. Ardi dan ibu segera berlari menuju rumah tersebut. Rupanya rumah Bu Wati terbakar. Ardi, ibu dan seluruh warga bergotong royong untuk memadamkan api. Hari itu Ardi tidak jadi membeli sepatu.

***

“Bu, Ardi tidak usah beli sepatu baru,” ucap Ardi pada Ibu.

“Loh nak, kenapa?”

“Tidak apa-apa bu. Uang yang kemarin Ardi berikan ke ibu untuk beli sepatu nanti diserahkan ke Bu Wati saja. Kasihan Bu Wati dan keluarganya. Rumah dan semua barang-barangnya habis terbakar api.”

“Wah, ibu jadi makin bangga kepada Ardi. Rupanya anak ibu juga memikirkan orang lain. Baiklah, nanti akan ibu serahkan uangnya ke Bu Wati.”

“Terima kasih, Bu.”

***

Malam harinya, ayah Ardi pulang dari Surabaya. Rupanya ayah sudah menyiapkan hadiah untuk Ardi. Ketika Ardi membuka kado dari ayah, ternyata isinya adalah sepatu. Ardi kelihatan senang sekali. Jadi, tidak ada kebaikan yang sia-sia. ***

 

[1] Disalin dari karya Umu Fatimiah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” edisi Minggu, 8 Juli 2018