Wisata ke Geopark Belitung

Karya . Dikliping tanggal 5 Maret 2019 dalam kategori Cerita Anak, Kompas

Ini adalah hari kedua Andri dan Arman liburan di Pulau Belitung. Kedua kakak beradik berusia 12 dan 11 tahun itu melakukan wisata geologi ke Belitong Geopark bersama Papa mereka.

Pagi ini, Andri, Arman, dan Papa sedang berada di salah satu kawasan Belitong Geopark yaitu Pantai Tanjung Tinggi. Andri dan Arman memandang takjub pemandangan di hadapan mereka. Pantai berpasir putih itu kaya dengan gugusan batu granit yang sangat indah.

“Ternyata benar kata Papa. Belitong Geopark keren, Pa,” kata Andri pada Papanya.

“Iya, Pa. Kemarin, waktu kita ke Pantai Kalayang juga bagus. Batu Garudanya unik. Lalu saat ke Pulau Lengkuas, disana pemandangannya indah, ada mercu suarnya. Waktu kita ke kawasan bekas tambang timah, tempatnya juga menarik. Apalagi pas ke Bukit Peramun melihat hewan asli Belitung, Tarsius. Lucu banget,” timpal Arman.

Papa tersenyum. “Iya, Papa sengaja mengajak kalian ke sini, biar kalian tahu, Indonesia sangat kaya kawasan wisata yang indah-indah, termasuk Belitong Geopark ini.”

Tak lama Andri dan Arman berlari-lari di tepian pantai menuju deretan bebatuan granit.

“Wah, mantap di sini view-nya buat foto-foto,” kata Andri. Mereka saling bergantian berfoto dan melakukan selfi dibatu-batuan granit itu.

Tiba-tiba Arman tampak mencari sesuatu disekitar tempatnya berdiri.

“Cari apa kamu, Arman?” tanya Andri heran.

“Aku sedang mencari batu kerikil runcing. Aku mau membuat prasasti nama kita di batu-batu granit ini. Buat kenang-kenangan kalau kita pernah ke tempat ini.”

“Aduh, itu tindakan tidak baik, Arman!” geleng Andri. “Kita seharusnya merawat kekayaan alam karunia Tuhan ini, bukan malah merusaknya. Bayangkan kalau semua pengunjung seperti kamu, bisa rusak obyek wisata ini!”

Arman lalu manggut-manggut menyadari rencana aksinya itu salah. “Ya, sudah tidak jadi, deh. Benar, kata Kakak.”

Usai berwisata di Pantai Tanjung Tinggi, Papa lalu mengajak Andri dan Arman mengunjungi kawasan Geopark lainnya, yaitu Danau Kolong Kaolin yang airnya berwarna biru.

Sore harinya mereka mengunjungi Museum Tanjung Pandan yang menyimpan kekayaan geologi dan budaya Pulau Belitung. Di museum ini, Andri dan Arman melihat koleksi batu-batuan dan biji logam, seperti batu kuarsa, arsenopyrite, granodiorit. Ada pula maket tambang-tambang timah di Belitung.

Andri dan Arman merasa puas di Belitong Geopark. Di tempat ini, selain bisa berekreasi diberbagai kawasan Geopark yang indah-indah, mereka juga bisa belajar berbagai ilmu pengetahuan, seperti geologi, arkeologi, dan budaya.

“Kapan-kapan kita ke sini lagi ya, Pa?” kata Arman esok harinya saat ia bersama Andri dan Papa dalam perjalanan menuju bandara untuk pulang kembali ke Jakarta. Papa pun mengangguk penuh arti. *


[1] Disalin dari karya Yudi Suharso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” rubrik Nusantara Bertutur edisi Minggu, 3 Maret 2019

Sila Nilai-Bintang!