Koran Kompas

  • Raung dan Kenangan Seluas Kabut
    by Kliping Sastra on 10 September, 2019 at 8:35 pm

    ”Kalian berdua beruntung cuma dijenggong anjing yang lehernya terikat. Tadi, selepas Isya, kuntilanak mengejar rombongan pendaki asal Jakarta,” begitu kata Ibu Sunarya kepada ayahmu ini, Nak. Napas terengah akibat sangar gonggong anjing, kami redam dengan kopi yang disuguhkan Ibu Sunarya di Pos 1. Ayahmu ini, Nak, sewaktu muda memang pengecut. Suara gonggong anjing pun membuat […] The post Raung dan Kenangan Seluas Kabut appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi […]

  • Tamu
    by Kliping Sastra on 26 Agustus, 2019 at 3:57 pm

    Dengan mengendarai truk yang saya supiri sendiri, sekitar jam 14 saya dan istri memasuki kola kecil K, dan begitu sampai di rumah sewa, yang uang sewanya sudah saya kirim tiga minggu lalu, truk berhenti, dan anak pemilik rumah menyerahkan kunci, kemudian pergi. Saya dan istri menurunkan semua barang, memasukkannya ke rumah, dan setelah semua tertata, […] The post Tamu appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

  • Tentang Kita dan Laut
    by Kliping Sastra on 19 Agustus, 2019 at 3:45 pm

    Kau bilang sangat menyukai laut. Kau memang tidak mengatakannya langsung kepadaku sebagaimana juga hal-hal lainnva. Namun, dari balik dinding kamar aku pernah mendengar kau bicara tentang itu; tentang keinginanmu berdiri di depan laut dan kau menyaksikan ikan-ikan berlompatan. Lalu, setelah itu, sambil terlentang di tempat tidur aku segera membuat sebuah adegan dalam kepalaku: kau berdiri […] The post Tentang Kita dan Laut appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

  • Mati Setelah Mati
    by Kliping Sastra on 5 Agustus, 2019 at 3:25 pm

    Banyak orang, terutama warga Sekayu, yakin Nyai Dini telah mati berkali-kali. Kali pertama istri kiai Nuh ini mati pada Oktober 1965 saat dia baru berumur enam tahun. Kali kedua dia mati pada 1983 ketika penembakan misterius merajalela dan kali ketiga pada 1998 bertepatan dengan orang-orang di Jakarta menemukan banyak mayat perempuan cantik di gedung-gedung yang […] The post Mati Setelah Mati appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara.

  • Monolog si Kembar Setelah Menyebar
    by Kliping Sastra on 29 Juli, 2019 at 3:06 pm

    Ia yang diingat sebagai yang lebih tua, meluncur lembut di cairan berbentuk seperti agar-agar, untuk mendekat ke Dia yang lebih muda dilihat dari bentuknya, yang walau sejatinya mereka ini kembar, walau sebenarnya tak ada yang menyebar. “Aku mencarimu.” “Ah kamu, kamu bisa menemui siapa saja seperti saya, dan akan mendapat jawaban yang sama.” “Aku senang […] The post Monolog si Kembar Setelah Menyebar appeared first on Kliping Sastra Indonesia | Literasi […]

Selengkapnya…